Syahfina Nurul Zahrani
Dia tak berarti
Hanya kabut yang mengerti
Betapa mentari selalu memberi pagi
Memberinya cahaya kegelapan,
Bagi sang perenung
Hanya kabut yang mengerti
Betapa mentari selalu memberi pagi
Memberinya cahaya kegelapan,
Bagi sang perenung
Batang kayu mahoni,
Membentuk lekuk-lekuk indah
Sebuah ruang kecil tak berarti,
Menjadi kesenangan sesaat
Akankah hati ini mengerti?
Membentuk lekuk-lekuk indah
Sebuah ruang kecil tak berarti,
Menjadi kesenangan sesaat
Akankah hati ini mengerti?
Ketika sang perenung datang
Sinar kebahagiaan seakan gelap,
Lebih gelap dari malam
Malam tanpa gelap
Bak harapan yang mati
Sinar kebahagiaan seakan gelap,
Lebih gelap dari malam
Malam tanpa gelap
Bak harapan yang mati
Ku berpikir…
Bisakah batang kayu mahoni menjadi harapan?
Harapan bak sebuah pelangi
Yang memberi ceria setelah hujan
Ketika sang perenung kembali
Bisakah batang kayu mahoni menjadi harapan?
Harapan bak sebuah pelangi
Yang memberi ceria setelah hujan
Ketika sang perenung kembali
Dia tak punya nurani
Hati yang dia miliki, jatuh
Di mata sang perenung,
Kau begitu elok
Bagai gadis yang ayu
Hati yang dia miliki, jatuh
Di mata sang perenung,
Kau begitu elok
Bagai gadis yang ayu
Sang perenung menanti!
Kapan kau berarti?
Kegelapan merindukan mu!
Datanglah… datanglah…
‘Dia’ meringis menahan jumpa
Kapan kau berarti?
Kegelapan merindukan mu!
Datanglah… datanglah…
‘Dia’ meringis menahan jumpa
Derit suaranya mulai terdengar
Dia melihat angin,
Bersapa padanya
Suara yang sejuk dan mengalir
Terdengar seperti ombak yang menderu
Dia melihat angin,
Bersapa padanya
Suara yang sejuk dan mengalir
Terdengar seperti ombak yang menderu
Sang perenung tersenyum hangat
Dia kembali! Dia terbuka!
Kini kesepian tumbuh kembali
Melihat bayangan yang indah
Menanti gelap yang terang
Dia kembali! Dia terbuka!
Kini kesepian tumbuh kembali
Melihat bayangan yang indah
Menanti gelap yang terang
Tetaplah seperti itu,
Sebatang kayu mahoni
Sebuah kehidupan yang kini berarti,
wahai mata yang tak terlihat
Jendela sang perenung
Sebatang kayu mahoni
Sebuah kehidupan yang kini berarti,
wahai mata yang tak terlihat
Jendela sang perenung


19.45
Reaksi SMP TU
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar