Jumat, 18 November 2016

Jendela Sang Perenung

Syahfina Nurul Zahrani

Dia tak berarti
Hanya kabut yang mengerti
Betapa mentari selalu memberi pagi
Memberinya cahaya kegelapan,
Bagi sang perenung
                   Batang kayu mahoni,
                   Membentuk lekuk-lekuk indah
                   Sebuah ruang kecil tak berarti,
                   Menjadi kesenangan sesaat
                   Akankah hati ini mengerti?
   Ketika sang perenung datang
   Sinar kebahagiaan seakan gelap,
   Lebih gelap dari malam
   Malam tanpa gelap
   Bak harapan yang mati
                     Ku berpikir…
                     Bisakah batang kayu mahoni menjadi harapan?
                     Harapan bak sebuah pelangi
                     Yang memberi ceria setelah hujan
                     Ketika sang perenung kembali
Dia tak punya nurani
Hati yang dia miliki, jatuh
Di mata sang perenung,
Kau begitu elok
Bagai gadis yang ayu
                      Sang perenung menanti!
                      Kapan kau berarti?
                      Kegelapan merindukan mu!
                      Datanglah… datanglah…
                      ‘Dia’ meringis menahan jumpa
Derit suaranya mulai terdengar
Dia melihat angin,
Bersapa padanya
Suara yang sejuk dan mengalir
Terdengar seperti ombak yang menderu
                 Sang perenung tersenyum hangat
                 Dia kembali! Dia terbuka!
                 Kini kesepian tumbuh kembali
                 Melihat bayangan yang indah
                 Menanti gelap yang terang
Tetaplah seperti itu,
Sebatang kayu mahoni
Sebuah kehidupan yang kini berarti,
wahai mata yang tak terlihat
Jendela sang perenung

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Tata Letak oleh Mochamad Latif Faidah