Jumat, 18 November 2016

From Secret Agent to Reaksi!

                                                                                        Ilustrasi: spy-party-games.html

        Mungkin teman-teman yang membacanya masih belum ngerti apa sih ‘Reaksi’ itu? Jadi di sini bakal aku  jelasin, Reaksi itu adalah klub menulis yang sengaja dibentuk. Nah, awal mulanya kami bertiga (aku, Fina, Simi) yang senang baca buku di perpus selasar lantai atas (waktu gedung lama/ kampus 3) masih dianggap jadi agent, hmm kayak apa gitu yaa.. tapi seru lho!
        Suatu hari kami melapor ke Pak Panggih karena ada beberapa buku yang tidak layak baca di usia kita. Terus Pak Panggih minta kami untuk menyensor buku-buku yang baru masuk ke perpus. Sejak itulah kami didaulat oleh Pak Panggih jadi secret agent alias agen rahasia di perpus sekolah (setelah semua membaca ini jadi gak secret lagi deh hehe). Kalau ada yang binggung apa sih misi-misi kami jadi agent perpus itu untungnya? Jadi, selain penyensor buku baru misi kita juga mencek peminjaman buku yang terlambat kembali. Selain itu juga, setiap ada buku baru yang bagus untuk dibaca selalu kami sarankan agar perpus menyediakannya. Untungnya bagi aku sendiri sih misi-misi ini ngisi waktu luang jadi bermanfaat karena sambil baca buku-buku terbaru dan jadi tau banyak hal update dari buku yang aku baca itu.
         Seiring berjalannya waktu, Pak Panggih mengajak kami bertiga untuk berkumpul dalam sebuah klub yang gemar membaca dan menulis. Kami langsung setuju saja kalau itu jadi tempat untuk berkarya. Di awal Oktober, (lupa lagi tanggalnya) setiap Selasa sepulang sekolah kami berkumpul. Saat itulah, mulai terkumpul delapan orang anggota yang diberi kesempatan untuk membuat tulisan apapun yang disukai (puisi, cerpen, diary, artikel, liputan). Walaupun sempat ada satu orang anggota yang keluar dari klub karena dia berhalangan untuk les, tapi dia tetep kirimin karyanya kok. Nah, setelah pertemuan kedua, dan akhirnya di putuskanlah si doi ehh..salah hehe, disepakatilah dia yang jadi ketua klub ini. 
        Jadi di klub itu udah ada ketuanya, sekretaris, dan bendahara. Gak lama setelah dibentuknya klub ini disepakati klub ini bernama Reaksi! (Remaja Bergerak dalam Literasi)...wiih. Untuk jadi anggota tetap yaa masing masing dari kita udah dan harus selalu membuat karya di blog reaksi ini. Gak cuma tulisan aja kok, lukisan, gambar, atau jepretan foto yang menarik juga bisa di posting di blog ini. So, lets join us! Salam karya!


Penulis: Aulia 

Menjamah Basah

Panggih Cahyo Setiaji

Dentang menyepi dihirau gerimis
Semaput diri di tepian maut
Derasnya kau tunjukan sesal
Arusnya kau hapuskan pengharapan
Kepada kilauan pencakar langit

Tak ada lelah dari sisa benih yang kita tanam
Tak mau kalah atas karunia pada bukit
yang hidup dan pada curam
yang dihempas teras-teras berkasih

sampai kami mengusap lumpur
menjemur puing-puing cerita
jemari menengadah, lengan menyimpul erat
mengucap salam dan masih
bersimpuh merajut hari

Garut, 30 September 2016

Jendela Sang Perenung

Syahfina Nurul Zahrani

Dia tak berarti
Hanya kabut yang mengerti
Betapa mentari selalu memberi pagi
Memberinya cahaya kegelapan,
Bagi sang perenung
                   Batang kayu mahoni,
                   Membentuk lekuk-lekuk indah
                   Sebuah ruang kecil tak berarti,
                   Menjadi kesenangan sesaat
                   Akankah hati ini mengerti?
   Ketika sang perenung datang
   Sinar kebahagiaan seakan gelap,
   Lebih gelap dari malam
   Malam tanpa gelap
   Bak harapan yang mati
                     Ku berpikir…
                     Bisakah batang kayu mahoni menjadi harapan?
                     Harapan bak sebuah pelangi
                     Yang memberi ceria setelah hujan
                     Ketika sang perenung kembali
Dia tak punya nurani
Hati yang dia miliki, jatuh
Di mata sang perenung,
Kau begitu elok
Bagai gadis yang ayu
                      Sang perenung menanti!
                      Kapan kau berarti?
                      Kegelapan merindukan mu!
                      Datanglah… datanglah…
                      ‘Dia’ meringis menahan jumpa
Derit suaranya mulai terdengar
Dia melihat angin,
Bersapa padanya
Suara yang sejuk dan mengalir
Terdengar seperti ombak yang menderu
                 Sang perenung tersenyum hangat
                 Dia kembali! Dia terbuka!
                 Kini kesepian tumbuh kembali
                 Melihat bayangan yang indah
                 Menanti gelap yang terang
Tetaplah seperti itu,
Sebatang kayu mahoni
Sebuah kehidupan yang kini berarti,
wahai mata yang tak terlihat
Jendela sang perenung

 
Design by Free WordPress Themes | Tata Letak oleh Mochamad Latif Faidah